Sunday, 12 March 2017

Komunikasi Itu Penting

Dalam suatu hubungan, komunikasi sangatlah dibutuhkan. Karena dari komunikasi, kamu bisa melihat dan menilai sendiri seberapa penting kamu untuknya. Makadari itu komunikasi itu harus. Walaupun memang tidak perlu setiap menit/jam harus chatting. Cukup kabari pasanganmu, sesibuk apapun kamu cobalah jangan abaikan itu.

1. Misalkan di dalam hubungan kalian sedang ada salah paham yang membuat kalian berakhir saling diam. Cobalah mulai dengan kata “aku” dalam percakapanmu dan jangan memulai kalimat dengan kamu”. Katakanlah: aku ngerasa kita sekarang sering salah paham, entah itu karena apa” daripada mengatakan, “kamu bukan kamu yang dulu lagi”

2. Berusahalah untuk jangan mudah terbawa emosi jika sedang ada konflik dalam hubungan kalian. Jika pasanganmu marah, tatap dia dan dengarkan. Jangan menyelanya. Akui jika kamu yang salah. Jangan buang muka atau diam saja. Karena itu justru membuat pasanganmu merasa tidak dihargai, walaupun maksudmu ingin menghindari pertengkaran.

3. Berusahalah untuk memahami terlebih dahulu sebelum dipahami. Sulit, tapi sangat efektif.

4. Bagilah pemikiran dan perasaan dengan pasanganmu untuk membuatnya merasa jika dia merupakan bagian penting dari hidupmu. Karena dengan terbukanya kamu, pasanganmu akan merasa jika dia memang penting untukmu.

5. Jika pasanganmu (seolah) mengintrogasimu saat dia merasa ada yang ganjal pada dirimu, jangan memberikan satu kata jawaban. Cobalah untuk menguraikan jawaban dan penuhi keingintahuannya. Pasangan yang sedang curiga atau cemburu biasanya sering membrondong pertanyaan. Itu menunjukkan bahwa dia peduli terhadap kamu.

6. Dengarkan dengan penuh perhatian. Saat pasanganmu bicara serius, tentu hal yang menyinggung baginya jika kamu mendengarkannya sambil sibuk memainkan ponselmu atau pandanganmu justru kemana-mana. Jika pasanganmu bicara dengan serius, lihatlah matanya, dengarkan, dan sadari keberadaannya. Tidak harus selalu memberi solusi, karena biasanya dia (perempuan) hanya ingin keluh kesahnya didengarkan.

7. Berikan perhatian lebih. Tanyakan sesuatu yang terjadi hari ini, jika dia menceritakannya, artinya komunikasi kalian nyambung.

8. Pahami perasaannya. Cobalah mengatakan hal-hal yang membuatnya merasa dimengerti. Katakan padanya jika kamu memahami kenapa dia bersedih, jika dia berhak untuk merasa terluka atau terabaikan. Lalu jika dia memiliki prasangka buruk terhadapmu, jangan katakan jika dia salah telah memiliki perasaan demikian. Yakinkan dia jika kamu memang tidak seperti yang dia pikirkan.

9. Jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan kepadanya dengan kelembutan dan kebaikan tanpa menuntut. Jika pasanganmu merasa kalau dia seperti diperintah untuk melakukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya, dia akan menolak. Jika kamu memintanya dengan ramah dan membuatnya merasa istimewa, pasanganmu akan dengan segera melakukannya untukmu.

10. Jangan pernah membandingkan dirinya kepada siapa pun untuk membuatnya berubah. Sikapmu yang membandingkan pasanganmu dengan orang lain akan berakibat buruk terhadap hubunganmu. Itu akan menimbulkan perasaan tidak mampu dari pasanganmu, dia akan selalu merasa dirinya kurang segalanya. Jika kamu mau dia untuk memperbaiki beberapa hal dari kebiasannya yang buruk atau apapun, berikan pujian terhadap apa yang sudah dia lakukan dengan benar. Dengan pujian-pujian tersebut, maka dia akan berusaha untuk melakukannya yang lebih baik lagi dan berusaha untuk merubah kekeliruannya dan sikapnya yang kurang baik.

Tuesday, 3 January 2017

Inspirasi Baruku

Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan laki-laki. Hanya kenal di media sosial. Sebenarnya ini awal pertemuan dan kencan pertama kami namun semuanya berantakan. Dia malah mengajakku berkumpul dengan teman-temannya.

Sekitar beberapa bulan yang lalu, aku tidak ingat tepatnya kapan. Disitulah di sebuah perkumpulan anak-anak broken home. Hanya sebuah perkumpulan, bukan komunitas. Dan pertama kalinya aku bercengkrama dengan mereka. Padahal ini hanya kumpulan anak-anak nakal. Namun di tempat ini aku merasa tidak sendiri, aku merasakan hangatnya suasana kekeluargaan. Tidak seperti saat aku berada di komunitas broken home di kotaku sendiri yang sudah tercatat di sosial media. Ada yang lain rasanya. Sangat berbeda jauh.

Aku senang berbagi cerita disini daripada di komunitas. Entah mengapa, karena yang kulihat, disini tidak saling ada pembicaraan di belakang saat ada beberapa kawan yang tidak ikut berkumpul. Satu pembahasan yang notabenya menjelek-jelekkan sama sekali tidak ada. Berbeda dengan di komunitas. Jika ada salah seorang tidak hadir saat forum, pembahasan negatif tentang dirinya pasti ada.

Memang dari awal aku mengagumi dan bahkan mengidolakan sosok Chatreen Moko. Dia pendiri komunitas Broken Home INDO dan kini komunitasnya sudah tersebar hampir di seluruh kota di tanah air, dan kebetulan di Yogyakarta ada. Aku sendiri bingung saat aku pertama bergabung di komunitas Broken Home Jogja ini. Kukira isinya anak-anak yang kurang beruntung, ternyata aku salah. Isinya 99% anak yang sangat beruntung. Forum mereka selalu di kafe/kedai budget mahasiswa. Padahal sebagian ada yang masih SMP dan SMA/K, tidak semuanya anak kuliahan. Dari gaya bicara dan gaya berpakaian, mereka semua high class. Tidak tampak seperti anak broken home pada umumnya. Tidak ada yang putus sekolah. Mereka semua tidak ada yang bekerja, namun kebutuhannya selalu terpenuhi. Hampir setiap anggota mempunyai ATM pribadi.

Berbeda sekali dengan disini. Memang mungkin mereka hanya perkumpulan anak-anak nakal, yang kerjanya hanya keluar malam mencari kesenangan. Namun pagi/siangnya mereka bekerja. Setidaknya mereka menghamburkan uang dari jerih payahnya sendiri. Bukan minta mama papa.

Tempat perkumpulan mereka bukan di kafe/kedai. Kadang di rumah salah seorang kawan atau di pinggir pantai. Mereka hanya sesekali berkumpul di kafe/kedai. Dan yang aku tidak mengira jika ternyata mereka juga sesekali berkumpul dan bermalam di Gereja HKTY Ganjuran, Gereja tempatku biasa mencari ketenangan di malam hari. Mereka sering menghabiskan malam disana, entah di pendopo ataupun di plataran candi.

Namun ada salah satu orang yang begitu menginspirasiku, aku belum bertemu dengannya, namun mereka menceritakan kisah orang tersebut kepadaku untuk memotivasiku saat aku menceritakan keluh kesahku.

Sebut saja GK. Dia perempuan. Dia bertatto dan berpearching. Jika digambarkan memang seperti anak nakal, apalagi dia perempuan. Tapi sejak kecil dia tinggal dengan kakek neneknya, suatu hari kakeknya meninggal dunia. Tinggal lah dia dan neneknya saja. Namun saat dia SMP neneknya juga meninggal. Dia sebatang kara. Dia tidak punya keluarga lagi.

Sejak saat itu dia kost dan bekerja. Namun dia tidak berhenti sekolah. Dia bekerja untuk membiayai sekolah dan kebutuhan lainnya sendiri. Dia beruntung punya kekasih yang tetap ada dan setia untuknya saat keadaannya seperti ini. Dari SMP hingga SMK dia hidup sendiri. Meski begitu, dia tidak pernah pelit/perhitungan dengan teman perkumpulannya. Bahkan dia sering mentraktir teman-temannya. Dan sekarang dia sudah bekerja.

Entah hati dan perasaannya terbuat dari apa sehingga dia bisa setegar dan setabah ini hidup sebatang kara. Berbeda denganku yang hanya ditinggalkan Ayah saja kadang merasa putus asa, dan sempat ingin mengakhiri hidup.

Friday, 9 December 2016

Tentang Hati yang (pernah) Patah

Seperti judulnya, hatiku pernah patah. Ya, patah. Namun tak begitu parah, karena aku hanya memakainya setengah.

Hatiku pernah patah. Patah saat aku membohongi perasaanku sendiri dengan menolak dia yang kusayangi ketika dia menawarkan dirinya untuk kumiliki hanya karena egoku yang terlalu tinggi.

Aku menolak karena dia pernah meninggalkanku untuk orang lain. Karena itulah aku tidak bisa menerimanya saat dia kembali datang karena menyesal.

Hampir satu tahun aku hidup dengan kemunafikan seperti ini. Menyayanginya dan (sangat) dekat dengannya namun aku selalu enggan menerima cintanya.

Perjalanan cintaku tak hanya sampai disitu saja, masih berepisode panjang. Dan tiba saat hatiku patah (lagi).

Hatiku pernah patah (lagi). Namun kali ini patah karena dipatahkan (bukan aku). Saat hatiku sepenuhnya kupercayakan padanya, kupikir dia dapat menjaga dan merawatnya (hatiku) dengan baik.

Di awal memang dia menjaganya dengan baik, bahkan dengan sangat baik. Hingga perlakuannya membuatku luluh. Namun itu tak bertahan lama. Entah sengaja atau tidak, sikapnya mulai berubah. Sikapnya tersebut mematahkan hatiku.

Sakit, kecewa, sedih semua membaur menjadi satu, hingga aku enggan mempercayakan hatiku kepada siapapun lagi. Perasaan takut akan kejadian yang lalu terulang lagi dan hatiku akan patah untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau.

Episode selanjutnya, aku mulai belajar dari pengalaman.

Hatiku pernah patah, kemudian patah (lagi). Aku tidak ingin hatiku semakin hancur. Aku mulai belajar dari pengalaman; aku menjalin hubungan tidak dengan hati. Jahat memang. Namun sangat sukar untuk menggunakan hati kembali.

Tak ada rasa cinta, tak ada rasa sayang, tak ada rasa nyaman. Ini hubungan macam apa aku sendiripun tak mengerti. Semuanya mengalir seperti air, tapi tidak dengan perasaanku.

Saat aku berpisah, hatiku patah namun tak begitu parah, karena aku hanya memakainya setengah (bahkan tidak).

Episode selanjutnya, aku mulai takut hatiku kembali patah.

Sangat sulit untuk mengubah status pertemanan menjadi percintaan. Aku takut jika salah satunya kelak meninggalkan, kedua hubungan tersebut akan berantakan.

Aku belum mempercayakan hatiku kepada orang lain sampai saat ini. Aku masih enggan. Aku belum siap jika hatiku kembali patah.

Aku selalu egois dalam hal ini. Aku hanya memikirkan hati dan perasaanku sendiri tanpa mempedulikan hati dan perasaan seseorang.

Aku hanya berharap, jika dia memang tulus, dia tak akan pergi saat aku bertingkah seperti ini. Dia akan tetap disisiku dan berjuang untuk memenangkan hatiku.

Saturday, 22 October 2016

Tentang Kasih Sayang Seorang Ayah kepada Putrinya

Gue sebenernya iri akan hal ini. Tapi gapapa, gue nulis ini buat kalian. Semoga bermanfaat.

     Pernahkah kamu merasa jika Ayah tidak sebaik Ibu, jika Ayah tidak selembut Ibu, jika Ayah tidak sekalem Ibu? Pasti pernah. Mungkin memang kasih Ibu sepanjang masa, namun kasih Ayah sepanjang jalan. Mungkin memang surga di telapak kaki Ibu, namun surga Ibu ada di telapak kaki Ayah. Ayah dan Ibu selalu mengiringimu, mereka selalu disisimu, dan mereka selalu ada bersamamu.
     Saat Ibu mengandungmu, Ayahlah yang paling mengkhawatirkanmu. Mungkin memang Ibu yang mengandungmu, namun Ayah yang memperhatikan nutrisimu, perkembanganmu dll. Ayah bekerja tanpa lelah untuk membiayai check up kandungan Ibu ke dokter, membiayai kebutuhan calon bayi mereka, membiayai persalinan Ibu. Dan setelah kamu lahir, Ayah masih terus bekerja tanpa lelah hanya agar demi kamu dan Ibu tercukupi lahir dan batin.

1. Mungkin dilihat dari sisi luarnya, ayah memang keras, ayah memang garang. Namun pernahkah kamu melihat dari sisi dalamnya? Betapa lembutnya kasih sayang yang ia miliki.
     Ini pasti seringkali banyak dirasakan seorang anak. Seorang anak akan merasa jika Ayahnya galak dan selalu memarahinya disetiap waktu. Tidak sepertu Ibu yang selalu menasehati dengan lembut setiap anaknya melakukan kesalahan. Namun jangan berpikiran jika Ayah tidak peduli denganmu.
     Ayah sebenarnya sangat peduli denganmu. Ayah seperti itu karena Ayah tidak ingin melihatmu gagal dalam segala hal. Ayah ingin kamu berhasil, Ayah ingin kamu sukses.
     Taukah kamu? Setelah memarahimu, Ayah selalu merenung dan sejenak menyesali apa yang sudah dilakukannya. Sebenarnya dalam lubuk hatinya, ia tidak tega melihatmu bersedih apalagi sampai menangis karena amarahnya. Ayah merasa belum menjadi Ayah yang baik karena selalu membuat anaknya bersedih. Namun ia melakukan semua ini demi kebaikanmu sendiri.

2. Saat kamu sakit, Ayah seperti diam saja. Namun kenyataannya Ayahlah yang paling mengkhawatirkanmu. Bahkan sampai ia tak bisa tidur.
     Siapa yang selalu ada disaat kamu sakit? Ibu. Ya. Mungkin memang ibu yang selalu ada. Itu karena ibulah yang selalu merawatmu dengan telaten hingga keadaanmu membaik dan sembuh.
     Lalu kemana Ayah? Ayah hanya diam saja, semuanya diserahkan kepada ibu, seakan-akan tidak peduli. Tidak seperti itu. Jika kamu sakit, Ayahlah yang paling mengkhawatirkanmu. Ayahlah yang tak pernah henti memikirkanmu, tak pernah henti mengingatkan Ibu untuk merawatmu. Jika ia tak punya uang untuk pengobatanmu, Ayah yang pusing memikirkannya. Ayah akan bekerja siang malam hanya untuk membiayaimu berobat.

3. Saat putriya beranjak dewasa, ayahlah orang yang paling khawatir tentang masa depanmu.
     Sudah tidak aneh saat masih imut-imut kamu masih sering berada di rumah. Namun seiring bertambah usiamu, itu yang membuatmu jarang berada di rumah. Entah itu karena mengerjakan tugas kelompok yang menumpuk atau asik dengan dunia luar.
     Selain itu urusan asmara. Diusiamu yang terhitung masih belia mulai mengenal cinta-cintaan yang bahkan masih dikata cinta monyet. Apalagi jika kekasihmu sudah berani mengantar jemputmu.
     Disinilah Ayah akan terlihat over protektif dengan putrinya. Sering terjadi saat putrinya diantar oleh laki-laki, ia sudah standby di depan rumah dengan wajah sangarnya. Bahkan Ayah tak segan menginterogasi sampai memarahi laki-laki tersebut jika terlalu larut mengantar putrinya pulang.
     Ini yang seringkali membuat kebanyakan teman laki-laki putrinya takut mengantar sampai depan rumah, bahkan ada yang hanya mengantar sampai depan komplek karena takut kena amukan satpam penjaga pintu rumah si perempuan.
     Namun kamu jangan risih jika Ayah seperti ini. Sebenarnya, Ayah hanya khawatir karena ia takut kehilangan putrinya. Dengan putrinya mempunyai teman laki-laki, Ayah menganggap bahwa teman laki-laki putrinya telah merebut mutiaranya yang kini telah beranjak dewasa.
     Ini semua Ayah lakukan karena ia takut putri yang selalu ia jaga dan rawat sejak kecil sampai kebablasan dalam urusan cinta (monyet).

4. Ayah tidak ingin putrinya gagal dalam segala hal, sehingga Ayah terkesan keras mendidik anaknya.
     Berbeda dengan ibu yang cerewet dan sering marah-marah. Ayah itu jarang marah. Namun sekalinya ia emosi, Ayah kadang bisa melakukan kontak fisik. Terkadang, ayah juga bisa marah dengan mengeluarkan kata-kata yang sangat tajam karena menusuk hati. Namun semua perkatannya itu benar. Jika kamu bisa menangkap dan menerima maksud dari kata-katanya (yang terkesan tajam), niscaya kamu akan termotivasi untuk menjadi yang lebih baik. Namun biasanya kebanyakan anak selalu beranggapan "Ayah jahat".
     Jangan tersinggung jika Ayah suka galak. Itu semua untuk kebaikanmu agar kamu tidak mudah menyerah saat kamu gagal dalam suatu hal.

5. Saat kamu diluar rumah, Ayahlah yang paling mencemaskanmu. Ayah selalu meminta ibu menanyakan kabarmu.
     Ini juga sering terjadi saat kamu sedang berada di luar rumah, Ibu sedikit-sedikit sms, sedikit-sedikit telepon mengingatkanmu untuk agar jangan pulang terlambat. Dan ini sering membuatmu merasa risih dan malu dengan teman-teman. Itu semua ibu lakukan karena setiap orang tua pasti khawatir takut anaknya kenapa-kenapa di luar sana.
     Lalu bagaimana dengan ayah? Apakah ayah tidak khawatir?  Justru Ayahlah yang selalu meminta Ibu untuk menanyakan kabarmu. Dan sesampainya kamu dirumah, disaat itulah Ayah menunjukkan kekhawatirannya dengan sedikit memarahimu jika kamu pulang terlambat.

6. Ayah adalah lelaki yang tidak pernah menyakiti hati putrinya.
     "Papa is my Hero” Seorang Ayah tidak ingin melihat anaknya tersakiti. Apalagi masa-masa remaja seperti ini, sedang jaman galau-galauan. Untuk perempuan (kamu khususnya) yang sedang jatuh cinta dan sakit hati. Saat inilah putrinya akan lebih sering murung sendiri karena patah hati.
     Taukah kamu? Ayah diam-diam selalu memperhatikanmu. Dan ingatkah saat kamu kecil, jika kamu diejek atau dinakali temanmu, pada siapa kamu mengadu? Ayah. Yaps. Bahkan ia tidak segan-segan mencari tahu siapa yang membuat putrinya bersedih hingga melabraknya.

7. Saat kamu berhasil, Ayahlah orang terdepan yang sangat bangga atas keberhasilanmu. bahkan Ayah bisa saja menitikkan air mata.
     Kesuksekan tidak bisa didapatkan dengan cara yang instan. Untuk mencapai sebuah keberhasilan, semuanya membutuhkan yang namanya jatuh bangun dalam kehidupan. Selain itu, semua ini berkat dukungan orang-orang disekitarmu. Terutama, orangtua.
     Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya berhasil mencapai sesuatu yang kamu impikan selama ini? Bangga, senang, bahagia tentunya. Begitu juga perasaan kedua orangtuamu, terutama Ayah. Ayah pasti sangat bangga atas pencapaianmu dengan segala usahamu selama ini. Karena Ayah merasa berhasil dalam mendidik anaknya. Saat itu pula, Ayah bisa seketika menjadi sangat cengeng. Karena tidak biasanya seorang Ayah menangis dihadapan anaknya. 

8. Saat putrinya sudah berani membawa teman laki-lakinya pulang, ayah akan bersikap jauh lebih tegas dari biasanya.
     Ayah tidak ingin anaknya salah pilih dalam memilih pasangan. Tidak heran jika Ayah selalu berprasangka buruk kepada teman laki-lakimu. Karena Ayah tidak ingin putrinya terjerumus. Diam-diam Ayah mencari tahu seluk beluk teman laki-lakimu itu. Bahkan jika teman laki-lakimu sampai menyakitimu, ia tak akan segan melabrak bahkan memukulinya.
     Apalagi jika sudah soal masa depan. Karena menikah itu sebuah perjanjian yang mengikat seorang lelaki dan per. Intinya, wajib bagi yang sudah mampu. Tuh kan, nikah itu penting karena hubungannya bisa dengan Tuhan. Oleh karena itu, Ayah sangat berhati-hati soal hal ini.

9. Ketika selesai mengucap janji suci (Ijab Qabul) Ayah pergi kebelakang karena menangis.
     Untuk para perempuan, jika kalian menikah pasti Ayah yang menjadi wali nikahmu. Percaya atau tidak, setelah mengucap janji suci (Ijab Qabu) akan banyak kejadian dan Ayah akan minta izin kebelakang dengan alasan kebelet atau apa, namun sebenarnya dia ingin menangis. Ia menangis karena tugas Ayah sudah selesai. Dari mulai mengurus, membesarkan, mendidik. Karena sekarang putrinya sudah diambil sepenuhnya oleh suaminya. Dan kebahagiaan putrinya selanjutnya, ada di tangan suaminya.

-END-

Setelah baca tulisan di atas, pasti lo sekarang udah ngerti gimana besarnya kasih sayang Ayah yang sebenernya. Jadi, jangan sesekali lo berpikiran jika Ayah tidak peduli, galak, menjengkelkan dll. Itu semua Ayah lakukan semata-mata untuk kebaikan lo.
Iya sih gue sadar, kalo gue nggak akan bisa mengalami dan merasakan semua itu sampai finally gue nikah. Karena gue cuman bisa merasakan kasih sayang Ayah sampai umur 6/7tahun saja. Tapi gapapa. Gue punya Kakung yang selama ini menggantikan perannya sebagai Ayah walaupun usianya sudah senja. Semoga Kakung panjang umur, agar bisa menjadi wali dipernikahanku kelak.

Saturday, 27 August 2016

Selalu Seperti Ini

Tak pernah terbayang sebelumnya jika aku harus menjalani hidup yang keras ini seorang diri. Tak pernah terbayang sebelumnya jika aku harus memikul beban seberat ini diusiaku yang masih dini.

Coba Ayah disini, coba dulu Ayah tidak pergi, keadaan tak mungkin akan menjadi seperti ini. Keadaan mungkin akan jauh lebih baik dari apa yang aku alami sekarang.

Aku benar-benar sendirian. Aku punya Ayah namun aku tak tau keberadaannya. aku punya Ibu namun aku tak tau keberadaan kasih sayangnya untukku. Aku punya Tuhan namun tak pernah aku menjumpainya. Aku pun juga punya teman namun aku tetap merasa sendirian.

Apakah setebal ini rasa benci yang menyelimuti hati kecilku atas keadaan yang aku alami sekarang, sehingga aku sulit untuk melihat dan memahami kasih orang-orang disekitarku? Apakah mata hatiku sudah buta? Apakah rasaku sudah mati?

Pada posisi seperti ini aku sangat sulit mengendalikan amarahku, selalu aku merusak apa yang disekitarku dan melukai diriku sendiri. Pikiranku frustasi, aku depresi. Jangan tanya bagaimana rasanya, yang jelas ini lebih sakit dari pukulan atau tamparan. Mungkin hanya dengan menulis seperti ini amarahku perlahan mulai melebur dan kemarahan berganti oleh sesenggukan tangisan lirih yang menenangkan.

Dan pada posisi seperti ini aku mulai bingung harus darimana aku menata masa depanku dan harus darimana aku menggapai mimpiku. Tak ada yang memberiku dorongan untuk ini. Berat memang rasanya, tapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi.

Aku tau ini adalah aib keluargaku. Dan aku tak berniat membeberkan aib keluargaku sendiri. Aku hanya menumpahkan semua keluh kesahku disini, karena aku tak tau harus berbagi kesah dengan siapa. Cerita kepada temanpun aku sangat jarang jika tidak ditanya terlebih dahulu.

Beginilah aku, seorang gadis yang tertutup dengan masalah intern di dunia nyata, tapi selalu blak-blakan di dunia maya. Bukan apa-apa, hanya saja aku tak ingin meneteskan airmata dihadapan mereka, lebih baik meneteskan airmata di kamarku seperti ini tanpa diketahui siapapun. Biarlah mereka yang meneteskan airmata saat membaca setiap kalimat pada tulisanku.

Di paragraf terakhir ini air mataku mulai mengering, dan bengkakan pada kelopak mata mulai nampak, yang bertanda bebanku mulai berkurang, sedihku mulai berangsur menghilang. Aku sudah siap memulai dari awal lagi!

Thursday, 7 April 2016

Mereka Bilang Aku 'Nakal'

Dipandangan mereka,
Mungkin aku ini sangat buruk
Haus akan kesenangan
Haus akan keceriaan

Ya. Aku memang menyukai kesenangan
Bersembunyi dibalik kesedihanku
Menghabiskan malam
Menyusuri jalanan dikala gelap
Menghirup udara dini hari

Kata mereka, aku nakal
Jelas saja, karena mereka hanya melihat sisi negatifku
Yang hanya,
Gemar keluar malam
Gemar berkawan dengan laki-laki
Gemar mengikuti konser
Gemar berdansa di alunan musik DJ
Gemar memabukkan diri
Gemar menghisap vape
Gemar mengumbar aurat

Kata mereka, aku liar
Jelas saja, karena mereka hanya melihat sisi negatifku
Tapi jujur,
Liar itu menyenangkan
Liar itu menantang
Merasa risih ketika harus pulang
Padahal malam masih panjang

Mereka hanya tahu namaku,
Mereka tidak mengenalku dengan baik
Mereka tidak tahu kepribadianku yang sesungguhnya
Selalu saja menilai dari sisi negatifku
Seakan tak pernah melihat sisi positifku

Mereka hanya tahu aku nakal dan liar
Mereka tidak tahu beban yang ku pikul sendirian
Mereka tidak tahu jika aku terluka
Mereka tidak tMOjika aku haus perhatian orangtua

Sebenarnya, aku bukanlah nakal ataupun liar
Aku hanya sedang mencari jatidiriku
Aku hanya sedang menikmati masa remajaku
Aku hanya sedang mengarungi dunia yang teramat palsu
Aku hanya sedang berusaha menutupi kesedihanku

Walau mungkin,
Terkadang aku lupa diri
Terkadang aku membangkang
Terkadang aku melewati batas
Terkadang aku tidak bisa di atur
Terkadang aku menyebalkan
Terkadang aku sangat pandai merangkai bualan

Itu semua masa laluku
Aku ingin perbaiki semuanya

Namun dari semua rangkaian tersebut,
Kau, Ayah dan Ibuku
Kau tetap kuhormati
Walau kalian sempat tak patut kujadikan panutan
Walau kalian sempat melukai perasaanku
Walau kalian sempat merusak mentalku
Walau kalian sempat menggoyahkan psikisku
Walau kalian sempat merobohkan bayangan masa depanku
Walau kalian sempat meruntuhkan asa yang ingin kuraih
Walau kalian sempat menghancurkan semuanya,
Tetap, i love you.

Monday, 14 March 2016

Gadis Kecil Ayah

Apakah wanita itu lebih menyayangi dan mencintaimu melebihi rasa sayang dan cinta yang kumiliki untukmu, yah? Sampai hati ayah meninggalkanku hanya demi wanita tidak tau diri itu.

Tidak kah kau ingin melihat gadis kecilmu tumbuh dewasa?

Dulu aku sempat marah, disaat aku akan berangkat sekolah, tangan ayah tak pernah lagi bisa kucium. Dulu aku sempat marah, disaat teman-temanku diantar jemput ayah mereka sedangkan aku tidak. Dulu aku sempat marah, disaat aku menangis tidak ada sepasang tangan kokoh yang merengkuhku. Aku marah padamu, ayah.

Tidak kah kau rindu gelak tawa gadis kecilmu ini?

Saat aku merenung sendirian tak pernah luput selalu kurenungkan "Tuhan Yesus Baik", aku meminta agar ayah dikembalikan lagi disisiku. Entah sudah berapa ratus kali kuucapkan "Tuhan Yesus Baik" keadaan tetap tak berpihak padaku. Kenapa hidup tak pernah adil untukku?

Aku tak pernah diizinkan menangis, tidak bahkan menangis dipelukanmu ayah. Aku tak pernah diperbolehkan jatuh, karena tak akan ada tangan ayah yang akan membantuku berdiri. Aku tak pernah diberi kesempatan untuk mengeluh dan mengadu rasa letihku, bahkan untuk duduk dipangkuan silamu aku tak pernah bisa. Apakah aku salah ketika aku berkata aku benci ayah? Tidak kan, aku tidak salah. Bahkan kata-kata sayangmu tak pernah aku terima bahkan kudengar. Akupun tak pernah mengucapkan kata-kata itu, karena aku tidak mau terlihat lemah didepanmu, ayah. Karenamu aku tumbuh menjadi sosok gadis yang egois dan keras kepala.

Sungguh aku rindu saat-saat dahulu yah, saat aku masih menjadi gadis kecil kesayanganmu satu-satunya. Sebelum cinta, sayang, dan waktumu terbagi setelah wanita tidak tau diri itu muncul dikehidupanmu. Aku seperti kehilangan ayah, aku seperti kehilangan duniaku. Dunia yang setiap selepas magrib selalu mengajarkanku cara menulis. Pensil harus selalu diserut agar saat digunakan menulis akan terlihat rapi. Dan buku tulis harus tersampul cokelat. Aku telah diajarkan rapi sejak kecil. Namun rindu hanyalah sebatas rindu.

Aku bahkan lupa, kapan terakhir aku tertawa ria bersamamu. Yang masih kuingat hanyalah ketika aku merengek minta uang jajan sambil menduduki kedua ujung kakimu yang menjuntai di kursi ruang tamu. Dan cangkir besar itu masih melekat diingatanku. Cangkir yang selalu terisi teh atau kopi pada pagi, sore, dan malam hari. Aku sering memperhatikan bagaimana ayah menghabiskan isi cangkir besar itu. Dan aku pernah meminta satu cegukan, rasanya pahit tapi manis. Begitulah rasa kopi hitam asli. Tak luput juga disamping cangkir itu selalu ada bungkusan rokok yang menemani. Akupun pernah bertanya, lebih panas mana api dineraka dengan bara dipucuk rokok? Pertanyaan konyol. Lalu kurebut rokok dari jemari ayahku dan kutempelkan ujung yang menyala itu ke daguku, dan membekaslah luka itu hingga saat ini. Luka yang terkenang.

Suara scooter klasiknya selalu kunantikan saat sore tiba, yang pertanda ayah sudah pulang. Dan karena suara itu juga membuatku ketagihan untuk sekedar berkeliling kampung. Ayah tak pernah menolak saat aku meminta berkeliling dengan scooternya, walaupun ayah penat setelah pulang bekerja. Ku kenakan helm yang mirip bola dibelah dua dengan kacamata capung yang menempel dibagian depan. Suaranya yang mampu membuat gaduh satu kampung itu yang kunantikan. Ah ayah, sungguh indah masa-masa itu.

Sekarang aku tak tau dimana keberadaanmu, bagaimana kabarmu, masih hidup kah atau telah tiada. 

Apakah wanita itu melarangmu untuk bertemu dengan anak gadismu ini?

Tidak kah ayah tau bagaimana sifat ibu terhadapku semenjak ayah memilih wanita itu? Ibu selalu berselisih paham denganku, ibu tak pernah membelaku, ibu selalu ketus terhadap teman-temanku yang berkunjung kerumah. Aku hancur, yah. Banyak temanku yang berkata;

"ibu kamu belum pernah kehilangan anak, makannya dia gitu"

"mungkin di diri kamu ada yang mirip sama ayahmu, makannya ibu kamu selalu meluapkan rasa kecewanya ke kamu"

Segala upaya telah ku usahakan untuk mencarimu, ayah. Dari membuat fanbase dan fanpage. Hingga setiap hari aku memutar otak untuk membuat karangan yang kini sudah terhitung ribuan. Agar saat fanbase dan fanpage itu sudah booming, aku bisa mencarimu lewat follower dan para member. Semua itu semata-mata hanya untukmu, ayah. Tak mengapa kau tidak mengetahui usahaku ini.

Andai ayah ada saat masa-masa pertumbuhanku. Aku mewarisi semua yang ada di dirimu, yah. Sifat, perilaku, dan kecerdasanmu. Walaupun aku pernah mogok sekolah karena depresi. Tapi coba lihat gadis kecilmu ini sudah mulai rajin menulis apa saja yang dirasakannya. Aku ingin membuatnya menjadi sebuah buku yang hanya ku dedikasikan dari, hanya, dan untuk ayah seorang.

Pulanglah, yah. Akan kujanjikan kebahagiaan dimasa tuamu. Jangan pernah sungkan untuk pulang, aku masih dan akan selalu menjadi gadis kecilmu yang sama seperti dulu ketika masih berlarian memakai singlet dan celana dalam kemana-mana, dan yang selalu mengantuk saat belajar karena terlalu asyik bermain di siang hari.

Maafkan masa kecilku yang terlalu banyak marah, selalu merengek jika menginginkan sesuatu. Mungkin aku telah menemukan jawaban mengapa ayah tak pernah menemani hari-hariku hingga aku sedewasa ini. Yaitu karena ayah telah memberikan seluruh cintanya untukku "ayah percaya padaku". Ayah percaya aku bisa menjalani hidupku dengan baik, ayah percaya aku mampu berdiri sendiri disaat aku terjatuh, ayah percaya aku tak akan mudah menangis dan terpuruk, ayah percaya aku bisa berhasil dengan caraku, dan ayah percaya aku bisa membuatnya bangga.

Pernah sesekali bahkan seringkali aku menyalahkan takdir atas semua yang kualami. Tapi mungkin memang lebih baik seperti ini, agar supaya aku bisa sepert sekarang ini, tangguh dalam menghadapi segala ujian dari Tuhan.

Ayah... Aku yakin kita akan dipertemukan nanti, entah didunia ataupun diakhirat, ayah akan melihat anak gadisnya ini dengan mata yang berkaca-kaca penuh kebanggaan dan senyuman lebar yang tersungging dibibirnya. Akan kupeluk erat dan mungkin tak kan kulepaskan untuk waktu yang lama, tak lupa kubasuh serta kucium kedua kakimu. Surga ditelapak kaki ibu, tapi bagiku wangi kaki ayah pun akan membuat segala hal menjadi berkat.

Terimakasih, ayah. Aku tumbuh menjadi seperti apa yang ayah inginkan.

ttd.
Gadis Kecilmu